Senyum itu memang indah kok

18 May 2009

Akhirnya hari sepedaanpun tibalah. Pagi-pagi Aku dan Anis sudah pada bangun, menyiapkan segala sesuatu untuk acara sepedaan Komunitas Insan Mandiri Cikarang yang lebih terkenal dengan sebutan Grup Cimart.

Ada kacang ijo yang kami blender dengan blender khusus, sehingga rasanya pasti berbeda dengan kacang ijo yang sering diminum oleh kawan-kawan yang sebentar lagi akan memenuhi rumah kami.

Satu lagi makanan yang kami siapkan adalah Carang Gesing, yang juga insya Allah dijamin enak, karena ditangani oleh istriku yang sedang getol-getolnya masak.

Jam 6.00 saat mestinya para “sepedawan” mulai berkumpul, ternyata belum ada yang nongol. Malah tetanggaku yang nongol duluan sambil ngajak anaknya yang masih pakai sepeda roda 4.

Kamipun ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu teman-teman yang masih sibuk dengan kegiatan paginya masing-masing.

Ketelepon pak Ruwi, pak Saparjan dan pak ATG. Mereka pada siap untuk menuju ke rumahku, tapi akhirnya pak ATG nggak muncul juga, padahal ditunggu oleh Band Cimart sampai lohor untuk menyanyikan lagu My Way.

Kulihat di Fisbuk, pak ATG sempat lapor ke kelas dan kemudian istirahat karena malemnya begadang menjaga keamanan kampung [alias ronda].

Om Gazelle [Lead Gitar Band Cimart] yang akhirnya muncul beberapa saat kemudian. Sebagai biker sejati, maka semua perlengkapan standard menempel di badan dan sepeda pak Lis [alias Om Gazelle]

Kaca mata yang dipakai juga kulihat berbeda dengan kaca mata sepeda yang pernah kupunyai. Ada stopper untuk menahan keringat yang mengucur ke mata, sehingga keringat itu meresap di stopper itu atau dialirkan ke sisi kanan kiri mata pemakai.

Akhirnya satu demi satu peserta sepedaan Cimart muncul juga. Pak RTkupun ikut meramaikan suasana dengan suara emasnya.

Sebuah keyboard PSR 1500 sangat pas mengiringi semua biduan dadakan pada pagi itu.

Setelah puas menyantap jus kacang ijo, Carang gesing dan melepas stres dengan lagu-lagu nostalgia, maka berangkatlah rombongan kecil ini menuju ke lapangan golf.

Tentu saja acara narsis tidak dilupakan. Sayangnya, karena kebanyakan tukang foto, jadi acara foto-memfoto ini tidak jelas fokusnya. Yang penting ada dokumentasinya !

Perjalanan on road dimulai dari Rumahku di Jalan Puspita VII Blok T.26 Montana sampai ke Lapangan Golf Jababeka.

Begitu sampai di Golf Jababeka, LiLo langsung membagi voucher Kupat Tahu Bandung [KTB]. Ada diskon 40% dari pak Ato, anggota Grup Cimart yang menjadi pemilik KTB. Yang lucu adalah saat Lilo memberikan voucher diskon KTB ini ke Pak Ato, sang Pemilik KTB.

Rupanya LiLo tidak tahu kalau yang dia beri voucher adalah sang pemilik voucher. Untungnya pak Ato sangat bijaksana. Dengan senyumnya dia menerima voucher itu, sehingga LiLo tidak merasa salah memberi.

Sejak kemarin, LiLo memang sudah menunggu saat-saat bersepedaan ini, sehingga hari ini dia terlihat begitu bersemangat untuk melakukan apa saja untuk mendukung acara sepedaan ini.

Acara sepedaan Grup Cimart ini jadi terasa sangat spesial buat keluargaku, karena anakku yang nomor dua sedang siap-siap merayakan ultahnya nanti malam [tapi acaranya sengaja disamarkan, sehingga anakku nomor dua tidak tahu kalau ada kejutan menanti di malam harinya]. Sejak kemarin anakku ini memang ikut aku mencoba rute sepdaan hari ini.

Acara istirahat inipun diisi dengan perbincangan seputar SELI [sepeda lipat] yang dibawa oleh salah satu peserta. Sepeda dengan harga asli 1,6 juta ini sudah dipermak habis, sehingga menjadi sepeda yang lebih ganteng dengan biaya total menjadi 2,6 juta [jadi ada biaya peningkatan mutu sebesar 1 jutaan].

Tidak sampai lima menit istirahat, komandan regu sudah meminta pasukan untuk bergerak kembali menuju jalur off road.

Lilo yang selama ini selalu kecapekan kalau sepedaan menuju Lapangan Golf ini terlihat masih semangat untuk mengikuti rute off road yang menghadang di depan.

“Pak, biasanya aku sudah capek lho kalau sampai di Golf ini”, begitu katanya sambil tersenyum-senyum. Dia memang senang sekali karena sepedanya sudah diperbaiki, sehingga lebih keren, terutama bel sepedanya.

Ternyata medan off road ini cukup menantang. Jalan sempit dan licin membuat aku harus ekstra hati-hati, malu dong kalau sampai kepleset. Kasihan juga anakku yang kugonceng. Bisa malu abiz dianya nanti kalau aku terjatuh.

Sepedaku sebenarnya memang jenis on road, jadi kurang cocok untuk medan off road, tapi sepeda off roadku memang sengaja kupinjamkan ke salah satu peserta sepedaan ini yang belum sempat beli sepeda baru.

Beberapa saat mengikuti medan off road, rupanya ketemu medan on road lagi. Jadi aku bisa bernafas lega. Terasa ringan kukayuh sepeda ini, maklum aku kan pakai sepeda tandem, jadi bisa “double gardan” deh.

Sekitar 80% perjalanan, rasa capek mulai menghinggapi LiLo, sehingga dia sudah mulai mengeluh.

“Capek pak!”, begitu keluhnya.

Keluhan ini rupanya didengar oleh pak Wahono, yang langsung memacu sepedanya untuk mengingatkan kepala regu agar memperlambat kayuhannya karena ada peserta cilik yang kecapekan.

Kulihat mereka yang di depan akhirnya pada berhenti menunggu rombongan yang kececer di belakang.

Begitu kami sampai, maka rombongan langsung bergerak kembali dan medan “off road”-pun kembali berada di depan kami.

Ajaibnya, LiLo yang kecapekan tiba-tiba seperti mendapat tenaga baru. Jalan menanjak dia sikat habis, sedangkan peserta lain pada kesulitan mengatur irama genjotan, karena rapatnya jarak di antara kami. Kalau untukku sih jalan menanjak memang tidak masalah, karena ada dua pengayuh sepeda tandem ini.

Adrenalin LiLo makin meningkat ketika sampai di medan turunan terjal.

Ketika semua peserta dihentikan oleh kepala regu, LiLo justru ingin segera melewati turunan itu. Dituntunnya sepedanya ke deretan paling depan, agar dapat meluncur secepatnya kalau sudah diperbolehkan meluincur.

Setelah semua sepeda motor pengguna jalan umum ini dilewatkan, maka tibalah saat para pengendara sepeda untuk mencoba jalan menurun yang cukup terjal ini.

“Janga gunakan rem depan, pakai rem belakang saja”, begitu komando kepala Regu.

Begitulah, satu demi satu para peserta menuruni turunan terjal itu. Kulihat LiLo dipandu oleh kawanku [pak Akur], padahal sebenarnya LiLo maunya turun tanpa dipandu. Terima kasih pak Akur atas panduannya [begitu kata yang ada di hatiku].

Begitu semua pengendara sepeda sukses menuruni jalan terjal itu, maka acara narsis kembali ON. Mulailah mereka pada berpose di tengah alam yang penuh dengan udara segar ini. Senyum merebak kemana-mana, terutama ke arah juru foto “amatiran”.

Selesai mode narsis, maka tak terasa akhirnya sampai juga rombongan ini di KTB. Kulihat para peserta tambahan pada bermunculan di pinggir jalan. Mereka adalah anggota CiMart yang naik sepeda motor dan ingin ikut ber”kongkow” ria di KTB.

“Pak nanti kita ke tempat turunan itu lagi ya. Aku mau menurun lagi di situ”, kata LiLo dengan penuh semangat.

Kamipun ngobrol tentang perasaan hati Lilo ketika tadi dia merasa kecapekan dan kemudian jadi bersemangat lagi ketika melihat medan yang curam itu.

Lilo terlihat sangat antusias menceritalan suasana hatinya ketika menuruni turunan terjal itu. Gayanya naik sepedapun masih serasa di medan off road, padahal saat itu kita sudah di medan on road lagi.

Suasana di KTB akhirnya penuh dengan canda tawa. Silih berganti para anggota CiMart menyambangi kami. Merekapun akhirnya diracuni oleh beberapa aktifis B2W.

“Ini racun yang paling sehat di dunia, B2W bukan R4N1″, begitu kira-kira penyebaran racun itu.

Selesai kita menyantap KTB, maka pak Ruwi, Deputy Director CiMart tampil ke depan dan menyampaikan sebuah pidato singkat.

“Bertepatan dengan ulang tahun ke 3 Kursus Musik Jimmie Manopo, maka khusus hari ini KTB gratis untuk peserta sepedaan CiMart”

Langsung kitapun bertepuk tangan dengan senyum yang mengembang [besaaaar sekali].

“Bagi mereka yang mendaftarkan putra putrinya di JM, maka 25 persen dari pendaftaran akan disalurkan ke kaum Duafa”, lanjut pak Ruwi.

Tepuk tanganpun makin keras, sambil mengucapkan Amin, bersyukur pada Tuhan atas karuniaNya.

Selesailah acara makan KTB yang sangat lezat ini. Masakan KTB ini memang terasa lezat dan nikmat karena disamping masakannya memang lezat, masih ditambah rasa lapar sehabis mengayuh sepeda dari Montana ke KTB.

Ternyata acara masih belum selesai benar, karena sebagian peserta rupanya masih ingin main ke rumahku. Alhamdulillah, jus kacang ijo dan Carang Gesing buatan istriku laris manis. Habis tanpa sisa.

Terima kasih teman-teman yang telah mengharagai pekerjaan masak istriku.

Acara siang itupun dilanjutkan dengan permainan Keyboard pak Faisal Mahbub dan petikan gitar Pak Lis. Vocalis dadakanpun muncul, begitu juga lagu-lagu dadakan juga muncul. Pak Akur yang biasa nyanyi malah asyik nulis blog dikawani anak kesayangannya.

Ketemulah beberapa lagu yang terasa pas untuk dimainkan saat acara pernikahan salah satu kawan kita nanti. Hari Kamis 21 Mei 2009 nanti, memang band Cimart akan manggung di Tropikana dan hari ini, meskipun bukan jam latihan, ternyata malah dapat lagu-lagu yang lebih enak dibawain dibanding lagu-lagu yang sering dilatih di studio JM [Jimmie Manopo].

Ini sungguh hari yang penuh dengan suka cita. Senyum bertebaran dimana-mana dan kemana-mana.

Terima kasih Tuhan atas karuniaMu.

Semoga kami menjadi hambaMu yang pandai bersyukur.
Amin.

…..

.


TAGS sepeda berbagi senyum band cimart cimart


-

Author

Follow Me