Oo.. ketahuan OnLine

15 Jul 2009

Menjadi staf tentu bukan jabatan yang membuat kita bisa melakukan apa saja di suatu perusahaan besar. Nelpon lokal saja susah apalagi mau main internet. Mimpi ‘kali ye…!:-)

Meski begitu niat untuk online ini sudah tidak terbendung lagi. Waktu tahun 90an bacaan buku-buku internet belum banyak beredar, sehingga hanya bisa didapat melalui artikel di koran atau majalah. Tentu saja ulasannya tidak bisa detil, karena yang mengulas juga mungkin belum faham betul tentang internet.

Celakanya, semua orang sudah terlanjur menganggapku sebagai seorang yang ahli internet. “Melek” teknologi, begitu kata mereka. Padahal aku sendiri masih bingung setengah mati tentang internet.

Tidak tanggung-tanggung, pak Direktur yang ada di Jakartapun menganggapku sebagai pemuda yang sangat “melek” internet, sehingga beban di pundak ini jadi terasa makin berat.

Mau online saja susah kok sudah berani cerita ngalor ngidul tentang internet. Dasar semangat narsis sudah membara, maka setiap ada acara presentasi, selalu saja kusisipi dengan cerita tentang dunia web.

Akhirnya aku hanya bisa berinternet di rumah saja dengan mode dial up. Gangguan tentu saja dari kawan di rumah, siapa lagi kalau bukan istri tercinta. Tentu dia sebel melihat telepon tidak bisa dipakai gara-gara sedang online. Sudah begitu suara bising dial up selalu saja makin menambah sebel kawan di rumah. Tahun 90an memang belum ada lagu putus nyambung, tapi koneksi internet sudah biasa putus-nyambung di kota Medan.

Di kantor, aku sama sekali tidak bisa melakukan koneksi ke internet. Jalur tidak ada dan tidak tahu harus bagaimana caranya mencari jalur untuk koneksi internet. Sampai akhirnya bosku nanya juga tentang internet. Langsung saja kusambar.

“Gampang pak. Tinggal pasang line telepon baru dan colokkan modem ini ke jalur itu”, kataku sambil menunjukkan modemku.

“Harus ada jalur telepon ya? Kayaknya susah menambah jalur telepon lagi deh. Bos besar belum ada pemikiran untuk nambah jalur telepon. Sedangkan untuk telepon PABX saja sudah kebanyakan nomor dan sedang diperketat pemakaiannya”

“PABX?”, begitu pikirku. Inilah alternatif itu. Mengapa aku tidak pakai jalur PABX saja yang jalur teleponnya kebanyakan.

Besoknya pas kebetulan Bos keluar kota, kupindahkan komputerku di meja bos dan kucolokkan kabel modem ke jalur telepon PABX. Wuihhh lega banget bisa “mencuri” line telepon untuk akses internet.

Sayangnya hal ini tidak berlangsung lama. Itu terjadi ketika sang sekretaris lewat di depan meja bosku dan curiga melihatku duduk di kursi bosku. Dia kemudian balik ke mejanya dan melihat jalur telepon yang kupakai untuk internet. Langsung saja dia sadap jalur teleponku, tentu saja tidak ada suara apa-apa.

Yang jelas jalur kemudian dia putus dan aku tidak bisa memarahinya. Bukankah sekretaris itu yang telah bertindak benar, sedangkan aku justru yang telah bertindak salah [?]. Aku tidak bisa membuat alasan, bahwa semua yang kulakukan ini adalah demi perusahaan juga, karena mereka pasti susah memahaminya.

Akupun pasrahlah sudah. Pasti entah kapan Bos Besar akan memanggilku tentang masalah pemakaian jalur PABX untuk line internet. Okelah, kalau memang harus dimarahi, aku siap menerimanya. Namanya saja orang “salah” harus berani menerima tanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya.

Bener deh, besoknya aku dipanggil bos besar. Padangan mata sang sekretaris yang nongkrong di depan pintu Bos Besar sudah memberi arti yang jelas. Dia telah lapor masalah line telepon itu dan dia sedang menunggu aku muncul dari ruangan bos besar dengan wajah tertunduk lesu. Begitulah memang wajah-wajah yang keluar dari ruangan Bos Besar.

Di dalam ruangan Bos Besar aku sudah mantap untuk mengaku salah dan meminta maaf.

“Kamu main internet ya di kantor?”

“Iya pak?”, kataku yang ternyata agak gemetar juga.

“Apa sih syaratnya masang internet di kantor kita?”, kata bos besar dengan pandangan mata penuh ingin tahu.

Lha kok jadi gini perkembangannya? Aku seperti mendapat durian runtuh, langsung nyerocos gak bisa dihentikan. Kujelaskan dengan bahasaku dan kulihat Bos besar tertarik dengan penjelasanku, hingga akhirnya dia menelpon sekretarisnya.

“Sam, tolong dibantu pengadaan line baru untuk internet ya. Nanti tanya Eko apa yang harus disediakan. Besok bisa kan?” , ucapan Bos besar ini bagai air sejuk yang mengaliri seluruh tubuhku. Rasanya segaaar banget.

Dunia seperti sedang bernyanyi riang ketika akhirnya aku punya satu alamat imil lagi. Tadinya aku pakai alamat eko@medan.wasantara.net.id untuk alamat imil yang murah meriah, sekarang aku juga punya alamat imil waskita1@indosat.net.id untuk alamat resmi di kantor.

Yang lebih bikin sensasi adalah ketika berkenalan dengan admin wasantara medan dan aling berdiskusi untu menyukseskan telegram dengan imil. Kalau gak salah namanya pak Sintong. Dengan penuh kekeluargaan dia mengajakku masuk ke server wasantara medan, bercerita ngalor ngidul tentang mimpi wasantara terhadap dunia internet di Indonesia. Mimpi yang sangat indah, sayangsampai sekarang mimpi itu belum terwujud.

Yang jelas komunikasi dengan admin wasantara medan dan indosat medan membuat aku makin lancar berselancar di internet.

Hubungan Medan Jakartapun menjadi lancar, demikian juga hubungan dengan wilayah kerja yang lain. Tentu pak Direktur makin percaya pada kemampuanku berinternet.

Tidak berhenti disitu, akupun mulai merancang milis untuk seluruh karyawan perusahaan yang mempunyai alamat imil. Kuhubungi bos-bos jauh yang ada di Jakarta.

Inilah imil yang kukirim pada mereka di tanggal 1 Desember 2000 [pas tahun naga nih]

+++

Yth. Pak Hanif, Pak Kiming Pak Edi dan Pak Arfan

Saya mencoba membuat sarana milis informal waskita (seperti contoh dibawah
ini), sehingga pak Hanif kalau kirim imil tidak terlalu banyak menulis
alamat yang dikirimi.
Cukup kirim ke waskita@egroups.com, maka semua akan mendapat imil dari pak
Hanif.
Bila ada yang tidak berkenan, maka milis ini akan saya ganti deskripsinya.

Terima kasih.

+++

Hehehe… waktu itu rupanya milis yahoogroups masih beralamat di waskita@egroups.com ya.

Yang lebih seru lagi adalah ketika membuat website. Alamat “homepage”-ku sudah hilang nggak bsia dicari lagi. Dulu mbuatnya di geocities. Alamat lengkapnya di http://www.geocities.com/CollegePark/Quad/2299/, tapi sayang sudah tidak ditemukan lagi. Kejadian seperti inilah yang membuat Matt menciptakan Wordpress, agar semua tulisannya tidak hilang seperti tulisanku.

Dunia ini begitu cepat berlalu rasanya. Teknologi yang dulu begitu kuno, sekarang sudah jauh melesat. Aku juga jadi berpikir, kalau saat kiamat di bumi nanti, jangan-jangan kiamat itu hanya terjadi di bumi saja, tapi di Planet MARS mungkin saja malah muncul dunia baru.

Benarkah?
Wallahualam bisawab…!:-)


TAGS online detik ultah pengalaman internet ulang tahun ke-11 detikcom


-

Author

Follow Me