Buaya tak butuh Cicak

6 Nov 2009

“Buaya tak perlu dukungan Cicak. Cicak yang perlu Buaya !”, begitu kata seorang Buaya pada beberapa Cicak yang mengelilinginya.

“Ingat mas Buaya, sampeyan jadi begini ini karena ada kontribusi dana dari kami para Cicak, kalau tidak darimana kamu dapat semua fasilitas itu?”

“Nah terbukti kan, kalian yang perlu untuk membayarku bukan aku yang harus membayarmu. Kalian perlu aku untuk melindungi kalian. Jangan menye-menye begitu !”

“Kalau semua Buaya arogan seperti sampeyan ya nama korps sampeyan akan hancur”

“Kalian itu, para Cicak, kalau tidak tahu hukum itu jangan asal bersuara. Pikir dulu sebelum ngomong! Kalian ini para Cicak memang sukanya nyebar berita bohong kesana kemari”

“Bukannya sampeyan yang harusnya mikir dulu sebelum memberikan pernyataan”

“Aku jadi buaya ini karena bisa mikir dengan baik, kalian jadi Cicak ini karena gak bisa mikir dengan baik. Kalian ini kurang mikir, kurang makan, kurang pendidikan, kurang apa lagi? Kalian ini kurang semuanya. Lihat kami ini yang serba kecukupan. Duit dari kalian ini seberapa sih?”

“Masih mending kita kurang makan tapi tetep bisa makan dan makanan kita adalah makanan yang halal dan baik. Bukannya sampeyan ini yang makanannya suka berlebihan dan suka makanan busuk? Bener kan…buaya suka makanan yang sudah busuk?”

“Kami selalu makan yang segar dan lezat, kalian ini jangan sok tahu ya…!”

“Bagi sampeyan makanan itu memang segar dan lezat, bagi kami makanan sampeyan itu berbau busuk karena memang busuk”

Perdebatan Buaya versus Cicak itupun tak pernah selesai, karena keduanya saling berpegang pada kebenaran versi mereka masing-masing.

Di kelompoknya, Buaya makin geram dengan tingkah laku Cicak yang makin tidak mau diatur lagi. Merekapun mulai merancang segala macam upaya untuk menundukkan Cicak. Para Cicak yang bersuara keras mereka tangkap dan mereka beri dua pilihan.

Pilihan Pertama, para Cicak terus bersuara keras dan akibatnya tahu sendiri atau memilih yang kedua yaitu bersuara lunak dan menjadi pengikut kebijakan para buaya.

Kebanyakan para cicak tidak takut dengan segala ancaman dari para Buaya. Merekapun tetap teguh dengan idealismenya dan rela menerima segala macam akibatnya. Penjara Buaya menjadi penjara suci buat mereka.

Para Buaya yang mengaku lebih berpendidikan ini akhirnya mencoba membuat alternatif ketiga. Para Cicak dipersilahkan tetap bersuara keras, tetapi mereka diberikan skenario untuk mengarahkan para Cicak, sehingga para Buaya sudah mempunyai “antivirusnya”

Melalui pihak ketiga, para Buaya ini akhirnya berhasil merekrut para Cicak yang bersuara keras namun sudah sesuai dengan skenario yang dibuat oleh para Buaya.

Para Buayapun bisa tampil lebih trengginas karena mitra tandingnya sudah diketahui arah tembakannya. Semua perdebatan di depan publik jadi semakin seru karena sudah diskenariokan awal dan akhirnya. Para Cicak yang tidak tahu apa-apa tinggal bersorak-sorak sesuai panduan para senior Cicak yang sudah “terbeli”.

Begitulah akhir dari pertarungan yang tak kenal henti dari Buaya melawan Cicak. Terbuktilah sudah bahwa Cicak memang perlu Buaya !

+++

Semua cerita diatas hanya fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama atau adegan itu hanya kebetulan belaka. Cerita ini dibuat oleh Komandan Buaya atas ilham dari seorang Cicak yang sudah “tobat”.

+++

Mas Cicak tersenyum manis membaca cerita karya Komandan Buaya di atas.

“Begitulah dik Cicak. Bagi Buaya, semua cerita bisa dihalalkan. Cerita busukpun bisa dibuat beraroma wangi”, kata mas Cicak lembut.

“Iya mas. Sesuai dengan makanan Buaya yang suka dengan makanan busuk. Cerita yang tidak masuk akalpun dianggap sudah masuk akal”.

“Mulai sekarang kita puasa bicara saja dik. Biarkan para pakar saja yang bicara”

“Ya Mas. Mari kita teruskan perjuangan kita membangun negeri ini menjadi negeri yang pemimpinnya bisa memimpin dengan hati

“Kita doakan agar para Buaya dan Cicak akhirnya saling berbaikan dan sama-sama membangun negeri kita ini. Insya Allah”

“Amin”

+++

artikel terkait

Sinetron terlaris tahun ini

Jangan takut [ber]sama GusDur


TAGS Eshape cicak kpk polri buaya


-

Author

Follow Me