Suksesnya Peluncuran Buku Intelijen Bertawaf

5 Dec 2009

Siapa Namamu? Lilo Donk

“Kalau kamu yang minta tanda tangan, pasti dapet Lo”, kataku pada Lilo melihat antrian permintaan tanda tangan pak Ptray yang sudah pindah ke tempat ke tiga dan tetap saja penuh sesak.

Tanpa “ba-bu” lagi, Lilo langsung menyelinap di antara kerumunan mereka yang antri tanda tangan dan bener saja langsung menjadi pusat perhatian teman-teman Kompasiana.

“Siapa namamu?”, tanya pak Pray

“LiLo”, kata Lilo, sementar itu teman-teman langsung nyeletuk bareng.

“Anaknya mas Eshape tuh…!”

Pak Praypun tersenyum seperti biasa dan membubuhkan tanda tangannya di buku Intelijen Bertawaf.

Kuncinya di eMCe ini

Kuncinya di eMCe ini

Kopdar Kompasiana kali ini dalam rangka launching buku Pak Pray, bapak rumah sehat kompasiana, berlangsung sangat berbeda dengan kopdar kompasiana yang sebelumnya.

Meskipun eMCe-nya bukan blogger, tetapi karena jam terbangnya tinggi, maka suasana kaku akhirnya mencair juga dan akhirnya malah terus meleleh, gara-gara kekocakan pak Chappy yang seperti tidak pernah kehabisan ide untuk mengocok perut audience.

Kalau audience sudah cair, maka apapun yang terjadi selalu bisa dimaafkan dan cukup dengan sedikit sentuhan saja, maka audience sudah akan mengikutinya. Rasa lapar sudah berganti menjadi lapar akan kocokan humor dari para penampil yang ada di depan back drop.

Hanya pak Edi Taslim yang terlihat paling “cool” [jaim?] dibanding mereka yang duduk di dekatnya, sehingga langsung saja jadi sasaran tembak sang eMCe. Menjadi sasaran tembak, pak Edi Taslim tetap saja “cool” dan penontonpun makin etrpingkal-pingkal.

Suasana terus memuncak dan klimaks terjadi ketika pak Pray berdiri menyampaikan amanatnya [hehehe...maskudnya dongengnya]. Sepatah demi sepatah dan akhirnya ternyata berpatah-patah kata terlontar dari mulut pak Pray.

Apapun yang disampaikan pak Pray, terlihat ada kejujuran di ucapannya dan itulah kelebihan pak Pray yang disinggung oleh pak Chappy.

“Pak Pray mampu menempatkan dirinya pada posisi equilibrium”, kata pak Chappy.

“Dia tidak telanjang tapi terbuka. Dia tidak tertutup, tapi informasinya sampai”, kataku dalam hati.

“Ini posisi yang sulit buat seorang intelijen, karena dirinya penuh dengan informasi yang tidak boleh disebar tetapi tetap harus disampaikan, dan pak Pray telah mampu menjalaninya, sehingga tulisannya enak dibaca dan perlu”, kataku lagi dalam hati.

Mengikuti acara launching buku Pak Pray ini memang seperti menghadiri suatu acara keluarga yang sangat besar. Disebut keluarga karena semua memang punya hubungan keluarga [neneknya sama-sama Nabi Adam]. Mulai dari blogger cilik sampai calon blogger tua pensiunan ada di acara itu.

Nyanyi donk Om Koes

Nyanyi donk Om Koes

Para penyanyi besar juga muncul di acara itu. Ada Yuni Shara, ada Koes Hendratmo, dan ada juga Bob Tutupoli. Demikian juga politikus maupun deretan para Jendral. Lengkap sudah acara pada siang itu.

Pak Hendropriyono pada kesempatan itu juga tidak mau kalah lucu dibanding pak Chappy, sehingga suasana benar-benar segar. Hubungan RI dan Malaysia diungkapnya dengan detil dan diamini oleh para sesepuh yang seumuran dengan pak Hendro.

“Hendaknya ada blogger Kompasiana yang meluruskan tulisan tentang hubungan Indonesia Malaysia yang pernah ditulis di Kompasiana”, begitu pesan pak Hendro.

Selesai acara resmi, maka acara yang cukup dinantipun dimulai, apa lagi kalau bukan makan siang. Hidangannya lengkap dan lezat bergizi. Aku tentu saja langsung ke nasi rames yang sejak tadi sudah menggodaku.

Makan di bawah rimbunnya pohon-pohon di essence benar-benar nikmat luar biasa. Udara segar sehabis hujan, perut lapar dan lauk yang luar biasa banyak membuat teman lewatpun sudah tidak dilirik lagi.

“Ini nasinya yang jadi lauk mas”

“Hehehe…iya nih, nasinya dikit lauknya kebanyakan. Mau disisihkan kok enak semua ya”

“Ayo-ayo siapa yang mau makan bubur Betawi [asli], langsung tak siapkan racikannya”, kata mbak Nov

“Ya udah diracik saja mbak dan makan sendiri”, kataku

“Wah aku sudah kenyang, mas Eko saja ya..?”

“Aku sih masih mau mbak, perutku sayangnya cuma satu”

Kamipun tertawa bersama menyesali perut yang hanya satu sementara makanan bergitu berlimpah. Meski begitu akhirnya mbak Nov tidak tahan juga untuk membuat racikan bubur Betawi itu. Gak tahu juga siapa yang memakannya tadi.

Aku sudah pindah tempat dan asyik mengikuti perjalanan pak Pray pindah ke beberapa tempat untuk menandatangani bukunya.

Menjelang habisnya buku, akupun mengambil satu tas dan membuka penutup plastik buku pak Pray. Kuserahkan buku itu kepada Lilo untuk ditanda tyangani pak Pray.

Terima kasih pak Pray. Ini kopdar Kompasiana yang paling sukses. Semoga kalai lain lebih sukses lagi. kuncinya satu, pakai eMCe beneran, syukur-syukur yang juga blogger.

Meskipun eMCe kali ini bukan aku, tetapi pasti dia punya ilmu yang kurang lebih sama denganku. Jangan-jangan dia pernah membaca blogku tentang cara menjadi eMCe yang baik.

Hahahaha…

Jangan-jangan juga dia ikut kontes Bekasi Peduli Aids. [Hahaha...makin tidak sambung dan makin ketahuan belangnya].
+++

Tetap cantik dan mungil

Tetap cantik dan mungil

Suaranya itu lho empuk banget

Suaranya itu lho empuk banget


TAGS buku peduli intelijen bertawaf prayitno launching bekasi aids


-

Author

Follow Me