SBY sebaiknya santai saja

9 Feb 2010

“Din, sekarang demonya aneh-aneh ya. Ada yang bawa Kerbau tuh”, Khalid mengawali pembicaraan pagi itu di warung mie ayam samping pabrik.

“Hehehe…Kerbau bagi masyarakat Minang adalah lambang Kemenangan atau Kedigdayaan, jadi para pendemo itu ingin agar setelah demo, maka pemerintah menjadi bertambah Jaya, Makmur dan aman sentausa…”

“Ah…kamu ini ngawur saja Din. Darimana kamu punya pendapat seperti itu? Bukannya kerbau itu lambang kebodohan, kalau sapi, itu baru lambang kepintaran?”

“Aku juga cuma denger dari TiPi tadi malem kok. Katanya sih Minangkabau itu dari kata Kerbau yang menang. Yah intinya kita berbaik sangka sajalah sama mereka, baik para pendemo maupun mereka yang didemo”

“Udah baca koran Tempo tentang ongkos politik pansus?”

“Wah aku gak langganan koran Tempo, kalaupun kadang ke pasar beli koran itu, sering sudah kehabisan

“Siapa sih mengira kalau mas Din langganan koran, paling banter juga koran gosip, hehehe…”

Pembicaraan itu terhenti sebentar karena muncul Anton yang membawa beberapa lembar koran. Langsung saja Anton membentangkan koran di hadapan mereka.

“Apa pendapat kalian terhadap isi berita koran beberapa hari ini?”, tanya Anton sambil pandangan matanya menatap Udin.

“Aku suka membaca kisah hikmah saja pak Anton. Yang lainnya sambil lalu saja, soalnya banyak berita yang bikin kita jadi berpikiran kontra produktip”, jawab Udin sekenanya saja, karena memang dia paling males untuk membaca berita politik di koran.

Menurut Udin, berita di koran meskipun banyak benarnya, tapi kadang disampaikan dengan cara yang kurang baik. Beberapa berita ditampilkan apa adanya, tetapi beberapa berita kadang ditampilkan sepotong-demi sepotong, semuanya melalui sensor politik.

Hanya koran-koran dengan integritas baiklah yang tetap mempertahankan kredibiltasnya sebagai koran terkemuka. Mereka tidak terjebak dalam area politik dan mencoba tetap netral.

“Coba perhatikan koran Tempo ini Din. Ini kan koran yang sering kamu baca. Lihat beritanya bombastis banget. Bisa nggak dibayangkan 14 triliyun per hari?”

“Duit segitu memang banyak banget, dan aku yakin koran Tempo telah menulis dengan dasar yang kuat. Tinggal siapa pembacanya saja pak”

“Maksudmu?”

“Ya mau ditanggapi dengan berang, dengan bijak atau dengan santai. Semuanya terserah para pembacanya dan kepentingan pembacanya”

“Terus…?”

“Kalau menurutku sih kita ambil hikmahnya saja. Kita saling mawas diri. Apa sih yang telah kita lakukan untuk negara ini, apa kontribusi kita terhadap anak cucu kita. Keputusan yang salah di hari ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi negara kita lima tahun ke depan”

Anton termanggu sejenak mendapat jawaban dari Udin. Kenapa Udin ini selalu bisa begitu santai membaca berita yang membuatnya kelabakan hari kemarin.

“Din, apa jadinya kalau gegap gempita politik di negara ini terus dibiarkan berlanjut. Belum habis kasus Bank “C” sudah muncul berita reshufle kabinet. Semuanya itu membuat bisnisku jadi tidak menentu”

“Pak Anton tenang saja. Pabrik kita ini akan tetap berkinerja tinggi, apapun masalah yang ada di luar sana”, Udin mencoba meyakinkan Anton.

“Bener pak Anton. Kita siap mendukung kinerja pabrik ini. Teman-teman juga tidak terpengaruh kok dengan apa yang terjadi di luar sana”

“Aku heran dengan kalian ini. Bener juga ya. Selama ini apapun berita yang muncul di layar kaca maupun di koran tetap tidak mempengaruhi kinerja kita”

“Makanya santai saja pak”

“Hehehe…makasih ya . kayaknya SBY juga mesti santai menghadapi situasi saat ini. Biarkan timnya bekerja dengan baik dan hasil baiknya yang kita tunggu”

“Hahahaha….bener pak Anton. Jangan biarkan SBY tegang dan terlalu berpikir dengan isu-isu yang ada. Santai sajalah”

“Hush…kalau didengar SBY, dia marah enggak ya?”

Tertawa berderailah mereka bertiga sambil meninggalkan warung mie ayam itu. Lonceng pabrik sudah berbunyi, dan saatnya untuk masuk bekerja.


TAGS politik SBY isu santai


-

Author

Follow Me