Talk Show Tengah Malam di Amprokan Blogger Bekasi

11 Mar 2010

“Pak kapan bapak pulang, aku sudah ngantuk nih”, kata Lilo dengan muka sayunya

“Bapak harus bertanggung jawab dengan acara talkshow nak, jadi sabar ya. Tidur saja dulu, nanti kalau sudah selesai tak bangunin”, kataku menenteramkan Lilo.

Waktu memang sudah menunjukkan pukul 22.00 lewat dan tanda-tanda dimulainya talk show masih belum terlihat. Acara di panggung masih saja asyik dengan lagu-lagu dari beberapa penyanyi yang memang punya kualitas menyanyi yang baik.

“Mbak Ajeng, coba lihat situasi ini. Dimana kita akan menggelar acara talk shownya?”, kataku sambil mempelajari lokasi acara yang sangat tidak cocok untuk pelaksanaan suatu talk show. Bersyukurlah mas Enda, bapak Blogger Indonesia, yang hanya kebagian ngasih sambutan, coba kalau dia juga dapet jatah ngisi talk show sesuai panduan acara dari Amprokan Blogger 2010 (AB2010), pasti dia juga ikut pusing.

Nun jauh di ujung sana, terletak sebuah panggung yang tidak begitu luas namun memadai untuk sekedar menyanyi. Di depan panggung ada sedikit lahan kosong, mungkin dimaksudkan untuk mereka yang demen joget saat ada penyanyi yang mendendangkan lagu kesayangan mereka.

Menjauh lagi dari panggung adalah beberapa meja yang diisi oleh para pejabat Pemkot dan pengisi acara. Ada juga istri pejabat yang duduk di lokasi sini.

Setelah itu barulah beberapa baris kursi untuk para Blogger. Sayangnya kelompok blogger ini dipisah-pisah menjadi beberapa keolompok dengan sebuah sekat berupa meja makan yang cukup besar.

Jadilah sebuah medan yang acak adul untuk pelaksanaan suatu talk show pada jam yang mendekati midnight. Akupun akhirnya menyebut acara mbak Risa ini sebagai acara midnight talkshow. Mbak Risa menuliskan peristiwa ini dengan sangat piawai di blognya. Sebuah tulisan jujur dan mengalir dari seorang blogger sejati yang sangat cerdas.

Aku sebenarnya tidak menangkap kesan istimewa dari seorang Risa. Rambutnya yang banyak [dalam bahasa jawa pirang-pirang] membuatku “under estimate” pada dia. Belakangan aku baru sadar, bahwa Risa memang sebaiknya tetap pirang, karena itu menjadi ciri dia dan kesan orang terhadap dirinya yang biasa-biasa dijamin akan pudar begitu kata-kata sudah keluar dari mulutnya yang lincah dan penuh senyum persahabatan.

“What? 10 menit? Apa yang bisa dilakukan dengan waktu sependek ini?”, begitulah kagetnya mbak Risa ketika kubilang bahwa waktu untuk talkshow ini isunya cuma diberi jatah 10-15 menit. Akupun tertawa kecil menjawab kekagetan mbak Risa. Di seberang meja kulihat ada pak Walikota dan tentu suatu hal yang tidak nyaman kalau aku harus terbahak-bahak di depan Walikota yang sedang asyik menikmati pertunjukkan yang ada di panggung.

“Gampang mbak. Kan ada 10 kaos sebagai hadiah, nanti acaranya bagi-bagi kaos saja. Kalau satu kaos satu menit, maka paslah jatah talkshow ini”

Kamipun tertawa berderai tanpa bisa ditahan lagi.

Semua ini akibat moderator asli acara ini menyerahkan tugasnya padaku, sehingga aku jadi ikut kalang kabut. Tak ada persiapan sedikitpun bagiku untuk mewawancarai mbak Risa dan Jane Shalimar yang seara personal tidak banyak kukenal.

Aku sudah lama menjauh dari hingar bingar dunia seleb dan saat harus ketemu para seleb, tentu aku jadi kelimpungan. Mau search di gugel juga sudah gak sempat. Laptopku dipakai Lilo main game dan hapeku tidak nyaman untuk mencari berita tentang siapa dan apa kiprah Risa saat ini.

“Mbak Risa, bagaimana kalau tempat talkshownya kita pindah di bawah saja. Jangan di panggung”, kataku di awal pembicaraan dengan mbak Risa.

“Cocok mas. Aku juga kepikiran begitu. Aku sudah keliling ke berbagai kota untuk talkshow dan tempat ini tidak nyaman untuk sebuah talkshow. Aku juga berpikiran acaranya di bawah saja, jadi antara aku dan audience bisa berkomunikasi dengan baik”

Suami mbak Risa yang setia menemani pembicaraan itu terlihat mengangguk-angguk dan kesanku terhadap mbak Risa tiba-tiba berubah total. Mbak Risa datang kesini bukan untuk duduk dan ditanyai tapi dia ingin melakukan interaksi dengan penonton. Mbak Risa datang bukan untuk pamer kehebatan dia tapi untuk berbagi ilmu dengan penonton.

Suasana pembicaraan makin nyaman ketika mbak Risa pingin tahu siapa aku.

“Oooo ini mas Eko yang itu ya?”

“Tunggu dulu mbak, banyak mas Eko di internet dan mereka semua berada di atasku dalam dunia internet”, kataku sebelum mbak Risa salah sangka tentang siapa aku.

“Ini mas Eko yang suka bagi-bagi antivirus kan? Aku sering mampir ke blognya mas Eko lho”

Plong sudah hati ini, rupanya memang mbak Risa tidak salah tebak. Pembicaraan jadi mengalir lancar dan aku tidak perlu lagi search di Gugel. Kualitas kata-kata yang keluar dari mbak Risa sudah cukup sebagai modal talkshow ini. Aku hanya perlu berdiri mendampingi mbak Risa karena dia akan jadi bintang acara itu.

Aku hanya perlu 10 orang blogger untuk membuat pertanyaan buat mbak Risa dan Jane Shalimar, yang malam itu begitu santai dan ayu [tenan], kemudian sisanya adalah urusan spontanitas yang aku yakin masih memilikinya.

Saat Lilo sudah terkulai pulas di dua buah kursi, maka acara talkshowpun dimulai. It’s TIME!

“Teman-teman blogger, saya mau nanya, sebaiknya acara dilakukan di atas panggung, di bawah panggung atau di depan meja makan?”

Dalam hati aku membatin, “Kalau penonton memilih di atas panggung, maka rusaklah acara ini”

Kalau penonton memilih di bawah panggung dan di depan walikota, maka para pejabat ini kuragukan interaksinya dengan dunia blogger.

“Oke..terima kasih, jadi pilihan tempat jatuh pada pilihan ketiga, di depan meja makan”, begitu kataku biarpun tidak ada yang menunjuk pilihan ketiga. Dalam acara protokoler resmi seperti ini mana ada yang mau jadi volunter untuk menunjukkan tempat yang tidak laik sebagai lokasi talkshow.

Kuambil tiga kursi penonton di depan dan kupersilahkan nara sumber untuk berjalan melewati kursi para pejabat, menjauhkan diri dari panggung dan menyatu dengan para blogger yang kuminta untuk berkerumum di dekatku.

“Terima kasih atas ijin pak Walikota untuk memindahkan lokasi panggung menjadi di bawah panggung, dan mohon bapak Walikota untuk memutar kursinya menghadap ke arah sini”

Alhamdulillah dapat Walikota yang gaul, jadi sampai acara selesai pak Walikota masih juga setia menemani. Benar-benar midnight talkshow yang penuh warna. Kalau para pejabatnya sih nggak tahu lagi sudah pada kemana. Bagiku, ini adalah acara untuk blogger tamu yang sudah datang dari berbagai pelosok propinsi Indonesia dan mereka berhak mendapatkan talkshow yang LAYAK.

Ternyata aku tidak perlu mengeluarkan jurus-jurus “ice breaking” dan suasana sudah cair. Jadi mau apa lagi, langsung saja kita gebrak dengan sebuah pertanyaan pancingan.

“Ini nanya bener mas?”, kata mbak Risa.

Rupanya mbak Risa belum hafal dengan kelakuanku, jadi agak terhenyak sebentar. Selanjutnya, sepersekian detik kemudian, mbak Risa sudah tune in dalam acara talkshow bersejarah ini.

Talkshowpun mengalir lancar. Pertanyaan silih berganti dan hampir 60 persen blogger selalu mengacungkan tangan setiap aku meminta pertanyaan dari mereka.

Kalau dalam film barat, pasti aktornya langsung bilang,”think….think….think…!!!”

Biasanya dalam sebuah seminar atau talkshow, pasti ada kendala saat meminta audience untuk bertanya. Moderator akan berpura-pura membatasi jumlah penanya agar ada yang cepat-cepat mengacungkan tangannya.

Situasi saat ini berbeda 180 derajat. Semua orang ingin bertanya, bahkan blogger tercemar sekelas Andy MSE ternyata berkali-kali mengacungkan jarinya padahal tidak kugubris sama sekali. Maklum ini acaranya anak muda bukan anak tua sekelas mas Andy MSE [piss mas Andy ada kata yang salah, seharusnya bukan tercemar tetapi terkenal].

Akupun harus pandai membaca suasana, semua segmen blogger harus terwakili dan demikian juga harus terlihat ada dinamisasi pertanyaan. Disini kepiawaianku sebagai mantan eMCe tingkat nasional diuji lagi.

Alhamdulillah, jawaban-jawaban cerdas dari mbak Risa dan kecantikan mbak Jeane Shalimar telah membuat suasana makin renyah, gurih kemripik. Semua terpuaskan dengan penampilan nara sumber. Hanya aku yang sengaja menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan Jeane Shalimar yang malam itu tampil santai tetapi memancarkan pesona khas turunan Indo Arab.

Duh..kenapa istriku gak ikut tadi ya? [eit..apa hubungannya dengan istriku ya?]

Seorang blogger jomblo sampai rela kaosnya dicoret-coret dengan tanda tangan mbak Risa dan mbak Jane Shalimar.

“Wah hati-hati tuh, kalau dicuci bisa luntur tuh kaosnya”, kataku

“Enggak kok, akan kutempel di dinding kamarku”, jawab sang blogger santai.

Diskusi yang lancar inipun menghasilkan beberapa kesimpulan yang kutulis dalam tulisanku yang lain, yaitu “Ketika Rumah Walikota [Bekasi] menjadi Rumah Rakyat [Indonesia]“, akan tetapi kalau malas klik kesana, silahkan baca kesimpulan diskusi malam itu disini.

  1. Blogger tidak harus jadi penulis buku, tetapi blogger yang bisa menerbitkan tulisannya menjadi buku tentu merupakan nilai tambah tersendiri [branding image yang bagus] bagi sang blogger.
  2. Jangan terlalu berharap menjadi kaya dari menulis buku, tapi boleh berharap lebih bila buku kita dijadikan film.
  3. Menulis buku secara keroyokan membuat tulisan menjadi beragam dan memudahkan proses pembuatan sebuah buku.
  4. Menulis tentang sesuatu hal yang tidak dikuasai ternyata menarik dan laris, misalnya buku tentang hukum yang ditulis oleh mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang hukum. Ini tentu sesuatu hal yang agak keluar dari pola yang umum dalam penulisan buku. Yang lazim adalah menulis seuatu sesuai keahliannya ataukah jangan-jangan memang saat ini tren baru seperti ini.
  5. Jangan pernah berputus asa dalam menulis, biarkan kafilah berlalu anjing pasti tetap menggonggong juga. Jadikan menulis seperti kita menarik nafas [hehehe..ini tambahan dariku saat aku mengajari orang tentang mudahnya menulis].

Pak Ceppi Prihadi, Direktur Operasional Cimart, menambahkan sebuah kesimpulan sebagai berikut :

Mbak Risa menyatakan bahwa blogger harus selalu belajar dan memperbaiki diri, salah satunya adalah belajar berbahasa dan menulis dalam ejaan yang benar. Pernyataan yang dibantah oleh seorang peserta, yang berpendapat bahwa blogger tidak bisa diatur dan tidak perlu terikat aturan baku. Namun menurut pendapat saya, adalah salah jika kita tidak mau seperti itu. Penulisan imbuhan di seperti pada di jalan atau dibaca akan mengalir sendiri dari tangan kita tanpa kita merasa ada aturan yang mengikat. Ini adalah pembiasaan.

Pemilihan bahasa memang bebas, namun jika kita ingin tulisan kita dibaca oleh banyak orang, kita harus menulis dalam bahasa yang bisa dipahami oleh semua lapisan pembaca.

Setuju Mbak Risa!

Sungguh malam yang luar biasa, apalagi pak Walikota menutupnya dengan sebuah tantangan yang sangat menantang.

“Siapa yang pada jam ini sudah menulis tentang acara talkshow ini?”

Para bloggerpun tersipu malu. Fasilitas dari Hotspot [gratis] Telkom memang mereka pakai, tetapi tidak semua dipakai untuk kegiatan menulis. Ada yang update sistem operasi, ada yang download file, bahkan ada yang main game, hanya sebagian yang memakainya untuk menulis.

Ada blogger yang merasa sudah menulis pas di jam talkshow, tetapi ketika tulisannya dibaca olehMas Aris [ketua BeBlog] ternyata tidak ada yang menyinggung acara talkshow, jadi tantangan pak Wali tetap tidak bisa diladeni.

Terima kasih pak Walikota Bekasi yang gaul habis. Sampai ketemu pada acara lain yang lebih meriah.


TAGS blogger malam bekasi temu talk show tengah amrpokan


-

Author

Follow Me