Ciuman Mesra Anak SMP

22 Sep 2010

vidya_balan-1

Sudah dari tadi aku menunggu keluarnya Erika dari kelasnya, tapi tidak juga keluar. Aku sudah agak bosan menunggu di sudut jalan yang kotor ini. Sampah yang berserakan dan lalat yang beterbangan di sekitarku membuat penantian ini seperti sebuah siksaan yang tak bertepi.

“Ahh.. kalau di lagu sih enak, menunggu kekasih sampai malu sama semut merah, lha ini gak ada semut merahnya, adanya malah lalat ijo”, batinku menggerutu melihat situasi yang makin tidak kondusif.

Untunglah segera terlihat Erika yang seperti biasa menenteng tas punggung di bahu kanannya. Senyumku langsung mengembang dan semua capek menunggu ini seperti tak terasa lagi. Dunia seperti berhenti berputar dan matahari terasa sangat hangat di sore ini.

Cahaya matahari yang lembut menimpa rambut emas Erika yang panjang terurai, membuat aku makin kasmaran dengannya. Meski masih anak SMP, tapi Erika mempunyai potongan tubuh yang bongsor, sehingga seperti anak SMA saja. Rasanyatidak salah kalau aku sampai mabuk kepayang dengannya.

Dari namanya saja sudah menyiratkan keindahan tiada tara apalagi kalau sudah ngobrol dengannya. Dunia seperti berhenti berputar. Bibir Erika yang menari-nari tak henti-henti saat dia berbicara membuat siapapun yang melihatnya tak akan mengenal kata bosan di kamusnya. Apalagi kadang-kadang Erika membuat bibirnya seperti monyong dan kemudian kadang-kadang juga menjulurkan lidahnya.

Dunia bagiku hanya ada Erika. Sejam bersama Erika rasanya seperti semenit saja. Tak ada rasa puas biarpun sudah berjam-jam ngobrol dengan Erika. Akhir pertemuan selalu penuh dengan rasa kecewa dengan berlalunya sang waktu yang begitu cepat.

“Udah lama nunggunya?”, tangan Erika langsung menggandeng tanganku dan senyumnya langsung mengembang membuat akuj selalu terpana tapi harus tetap menjawab pertanyaan Erika atau dia akan menyemprotku lagi

“Gak..baru aja nyampai”, ucapku berbohong

“Tuh kan bo’ong. Aku lihat dari jendela kelas udah dari tadi tuh duduk disini. Udah sejam ya? Sori deh… Guru Biologi mendadak ngasih pelajaran tambahan. Hiy…bedah katak”

Rupanya Erika melihat aku yang duduk di tikungan jalan ini dari jendela kelasnya. Tahu begitu aku bisa bergaya sok peduli atau apa ya, sayang aku tidak tahu.

“Emang bisa lihat dari kelas?”

“Iya. Sekarang aku bisa lihat dari kelas, soalnya aku pindah duduk dekat jendela”

“Ooo… memang sudah dari tadi sih, tapi sejam menunggu gak terasa kok setelah ketemu Erika”

“Halah gombal!”

Kami tertawa bersama dan sebentar kemudian Erika sudah nempel di sadel Yamaha TS yang kugeber keras-keras, meliuk-liuk di sela-sela kemacetan kota Jogyakarta.

Di simpang empat Gondomanan sempat nyenggol becak tapi kami cuek saja. Eriak malah ketawa ngakak, padahal mungkin kakinya sakit kena bodi becak. Erika malah minta berhenti sebentar dan kemudian ganti posisi duduknya, tadinya menyamping dengan dua kaki di kiri, sekarang menghadap langsung ke depan dengan dua kaki masing-masing di kiri dan kanan.

“Nah, sekarang anti nyenggol becak deh!”

Sepeda motor terus kupacu ke Kaliurang dan akhirnya berhenti di hutan. Kuparkir motor dan kami duduk-duduk saja di bawah pohon, sampai akhirnya tiba-tiba turun hujan yang cukup deras. Spontan aku hidupkan motor dan mencari rumah terdekat untuk berteduh.

Dengan badan yang lumayan basah aku akhirnya menemukan sebuah rumah yang pintunya terbuka. Langsung saja aku parkir motor di depan rumah dan berteduh di teras rumah.

“Monggo mlebet mangke masuk angin (Silahkan masuk nanti masuk angin)..”, tiba-tiba kudengar suara bariton dari dalam rumah. Sebuah wajah ramah muncul sambil tersenyum dari dalam rumah.

Dengan tersipu-sipu kami berdua masuk rumah yang ruang tamunya gelap banget. Erika sempat tersandung kakiku dan kami berdua hampir terjerembab ke depan, untung ada kursi yang bisa kuraih, sehingga tidak sampai jatuh. Hanya saja tubuh Erika jadi nempel ke tubuhku membuat hatiku jadi berdetak tidak karuan.

Wajah Erika tepat di mukaku tapi aku tidak bisa melihat jelas karena belum terbiasa dengan gelapnya ruangan ini. Rasanya ingin memberikan ciuman mesra untuk Erika, tapi ada orang lain di depanku, sehingga aku urungkan niatku.

Semoga ada kesempatan untuk mencium Erika hari ini. Aku ingin menunjukkan cintaku padanya.

Bapak tua penghuni rumah ini luar biasa ramahnya, akupun tiba-tiba seperti merasa pernah mengalami kejadian seperti ini, tapi aku lupa entah dimana. Dulu bapak tua seperti ini pernah juga menawari aku tempat berteduh ketika aku kehujanan dan kemudian bercerita lucu padaku.

“Silahkan dinikmati suguhan dari desa ini nak. Hanya singkong rebus saja”

“Terima kasih pak. Dapat berteduh saja sudah senang kok”

“Iya pak. Terima kasih sudah mengijinkan kami berdua berteduh di rumah ini”

Bapak tua itu tersenyum dan kemudian kembali berkata sambil matanya menatap Erika yang sedang merapikan rambutnya.

“Tapi hati-hati ya nak? Singkong ini berbahaya untuk kesehatan mata”

“Ah masak pak?” Erika langsung menjawab spontan, sementara aku jadi tercenung dengan ucapan bapak tua itu. Kok ucapan bapak tua ini mirip dengan ucapan bapak tua yang pernah menerimaku saat berteduh dulu.

“Bener nak. Bapak tidak bohong”, ucap Bapak tua itu meyakinkan Erika.

“Memang apanya yang bahaya pak?”

“Lihat nih contohnya..”

Bapak tua itu langsung mengambil singkong rebus dan kemudian pura-pura dicolokkan ke matanya, membuat Erika tertawa terpingkal-pingkal.

Bapak tua itu tersenyum padaku dengan sebuah senyum aneh. Aku jadi lupa cita-citaku untuk memberi ciuman mesra pada Erika, aku jadi ingat beberapa waktu lalu pernah mengalami hal yang sama dengan peristiwa hari ini.

Tiba-tiba ruang tamu ini berubah dan jadi mirip dengan ruang tamu tempat aku bertemu dengan seorang bapak tua dan disuguhi juga dengan singkong rebus.

Aku seperti terjebak di dunia lain dan segera kupegang tangan Erika untuk pamit.

Aku makin kaget ketika wajah Erika berubah menjadi wajah perempuan lain yang kukenal. Itulah wajah cewek yang menemaniku saat berteduh dulu.

Akupun meloncat dan berusaha mengambil posisi untuk memasang kuda-kuda. Sayang kakiku terpeleset dan akupun jatuh menimpa kursi kayu yang ada di sudut ruangan.

Gubrak!

“Astaghfirullah..ternyata hanya mimpi”

Ya ampun aku ternyata hanya mimpi dan menuliskan mimpi ini demi sebuah persahabatan dalam dunia blog. Aku ikut lomba blog di blog mas Munir Adi dan wajib membuat tulisan tentang mimpi indah atau mimpi buruk.

Aku tidak tahu apakah mimpiku ini baik atau buruk, yang jelas aku bisa tersenyum lega ketika ternyata semua itu hanya mimpi.

+++

ilustrasi gambar dari pemeran film PAA Vidya Balan

postingan ini juga untuk mendukung SEO positip ANAK SMP


TAGS smp anak smp erika ciuman


-

Author

Follow Me