Teater Stemka 30 tahun lampau

19 Sep 2011

Beberapa hari lalu, aku menerima notifikasi bahwa aku sudah di”tag” di sebuah ganbar. Setelah itu, kembali muncul notifikasi kalau ada gambar lain yang ada aku di dalamnya. Akhirnya akupun meluncur ke gambar itu dan ….. Wow!

boneka-jadul

Ada gambar jadul di tampilan monitorku. Gambarnya masih hitam putih dan diambil sekitar 30 tahun lampau. Kalau tidak salah itu adalah gambarku ketika sedang latihan teater dan pada malam harinya kita hibur para penduduk desa dengan dagelan mataraman.

Inilah dagelan khas Jogja yang mungkin sudah banyak yang tidak pernah menyaksikan lagi karena dianggap terlalu kuno dan tidak masuk akal (memangnya dagelan bisa masuk akal?).

Kalau tidak salah ingat ada beberapa naskah yang kita mainkan, minimal ada dua yaitu TSMA (Tuan Saya Minta Air) dan Robot Boneka. Aku ikut main di Robot Boneka dan berperan sebagai robotnya. Naskah inipun pernah kumainkan di beberapa tempat setelah itu, termasuk di saat aku KKN di Pelem Rejo dan menjadi KORDES.

penonton

Aku tidak tahu apakah masyarakat sekarang masih bisa menerima dagelan seperti yang kutampilkan saat itu atau sudah bosen dengan tampilan dagelan mataraman ini. naskahnya boleh dikata ada di luar kepala dan hanya mengandalkan reflek dan kreatifitas spontanitas dari para pemainnya.

Tidak perlu pemain bintang di dagelan ini, siapapun bisa memainkannya karena ceritanya memang sangat sederhana. Misalnya naskah TSMA dimulai ketika ada seorang pencari kerja yang ditawari pekerjaan dengan hanya melakukan sebuah perkataan ajaib, yaitu Tuan Saya Minta Air (TSMA).

Ketika sang pencari kerja, sebut saja A berkata TSMA, maka oleh B langsung disemprot dengan semburan air. Tentu aja A marah, tapi B berkilah bahwa A minta air, jadi dia semprot dengan air. Akhirnya A hanya bisa marah sendirian dan si B pergi meninggalkan A yang sedang marah-marah.

Beberapa saat kemudian muncul C yang juga mencari kerja. Langsung saja A melampiaskan dendam pada C. Diajarinya C untuk bekerja dan cukup mengucapkan TSMA. Dapat ditebak, bahwa akhirnya C ikut basah kuyup karena disemprot air oleh A.

Dengan tertawa puas A meninggalkan C yang basah kuyup dan mencak-mencak sendiri.

Pada saat itu juga muncul B dengan gaya kalemnya. Melihat B datang, maka C langsung mengajari B untuk berlatih TSMA. Tentu saja B menolak dengan alasan dia tidak butuh kerja, tapi tetap saja dipaksa untuk mencari kerja oleh C, karena C ingin balas dendam soal semprot menyemprot air.

Disini klimaks mulai terbangun dan penonton dibuat terpingkal-pingkal dengan pemaksaan dari C dan penolakan dari B. Akhirnya B menyerah dan bersedia memenuhi permintaan C. Dengan wajah riang gembira C kemudian meminum air dan siap-siap menyemprot B jika B bilang TSMA.

Pada saat air sudah di mulut C, maka B bertanya pada C dan meminta mengulangi cara mengucapkan TSMA. Tentu saja C terpaksa menjelaskan lagi dan menelan air minum yang sudah di mulut.

Begitu terus menerus sampai pada klimaksnya justru C lagi yang kena semprot ketik amengajari perkataan TSMA.

penonton-lagi

Cerita yang sangat sederhana dan biasanya semua orang sudah tahu cerita itu, tetapi tetap saja para penonton tergelak-gelak sepanjang pertunjukan.

Aku sendiri memilih cerita yang lebih sederhana. Aku jadi robot yang bisa melakukan apa saja seperti yang dilakukan oleh manusia. Saat ditinggal pergi aku kelaparan dan makan makanan yang ada di meja. Sebelum makanan masuk mulut pemilik robot atau pembeli robot masuk sehingga aku tidak pernah sempat bisa makan dengan enak dan nyaman.

penonton-lain

Yang bikin kita terharu adalah minat masyarakat untuk menonton pertunjukan ini. Mereka datang dari jauh, melewati “gumuk” gundukan bukit kecil, baik naik sepeda maupun jalan kaki dengan diterangi obor.

aku-nggitar

Yang mereka saksikan juga tidak hebat-hebat amat. Aku sendiri ikut pegang gitar, artinya pemusik yang main bukanlah pemusik profesional tapi hanya pemusik amatiran saja. Mic yang dipakai juga bukan mic seperti yang kita kenal sekarang tapi adalah speaker kecil yang difungsikan sebagai mic. Ada yang dibungkus kain (kacu) atau dibiarkan telanjang begitu saja.

boneka-lagi

Aku tidak tahu apakah suaraku bisa sampai ke seluruh penonton, tapi mereka terlihat menikmati apapun yang kulakukan, jadi kuanggap saja mereka mendengar suaraku. Baik yang duduk di lantai maupun yang “menek” (baik) pohon.

Tak terasa 30 tahun sudah peristiwa itu berlalu, tapi masih juga aku mengingtnya dengan separuh nafasku (maskudnya tidak ingat seratus persen, hanya separuh dari seratusan).

Terima kasih pada teman-teman Teater Stemka yang telah menerimaku menjadi bagian dari mereka. Jadi kangen untuk bernostalgia pentas lagi di kampung.

Inilah wajahku dan Mas Tri setelah 30 tahun kemudian

Inilah wajahku dan Mas Tri setelah 30 tahun kemudian


TAGS teater masyarakat stemka menghibur desa terpencil


-

Author

Follow Me