• 15

    Dec

    Antisipasi Banjir Lahar Dingin

    Apa kata pakar Geologi tentang perlunya ntisipasi banjir lahar dingin? ” Hendaknya masyarakat desa yang tinggal di bantaran sungai selalu memperhatikan semua informasi yang disampaikan perangkat desa atau tokoh masyarakat. Kemudian mengumpulkan semua anggota keluarga lansia, wanita, anak-anak untuk mulai menuju titik tumpul.” “Selalu perhatikan komando dari ketua kelompok, tetap tenang dan siaga,” Ahli geologi yang lain berkata. “… masyarakat hendaknya terus selalau waspada, karena saat ini sangat sulit memastikan kapan bencana lahar dingin ini akan berakhir selama musim penghujan masih akan terus berlangsung hingga bulan februari atau Maret 2011.” “Hujan yang turun di lereng adalah pemicu adanya lahar dingin. Masyarakat diminta untuk me
  • 16

    May

    Ketemu Gudeg Yang Cocok

    Setelah sekian kali mencari, akhirnya bertemu juga kita dengan Gudeg Yogya yang bisa diandalkan untuk sarapan pagi. Larisnya bukan main dan akibatnya jalan yang harusnya dipakai untuk jalan orang terpaksa jadi ajang untuk menyantap gudeg ini. “Kalau cari Gudeg, coba cari penjual gudeg yang paling laris, pasti rasanya enak”, begitu kata kawanku ketika aku menyampaikan bahwa di Jababeka susah mencari Gudeg yang sesuai seleraku. Pernah suatu kali aku beli di dua tempat yang kuanggap laris. Tenryata rasanya masih jauh dari yang kuharapkan. Lucunya, saat aku nongkrong ke warung yang kubeli, ternyata warung satunya itu pemiliknya adalah warung yang satunya lagi. Pantes saja rasanya sama-sama gak nendang. Sebagai orang Yogya, aku dari kecil memang sudah terbiasa makan gudeg, sehi
  • 1

    Feb

    Gudeg 'n Sekaten

    Pagi-pagi menembus dinginnya udara alun-alun utara, aku menuju ke warung gudeg Slamet. Tadinya sih mau ke Gudeg Juminten, tapi hari ini baru pingin yang tidak semanis Juminten. Gudeg Bu Slamet memang lebih manis dari Gudeg mbarek, tapi tidak semanis juminten, jadi jika ada yang punya selera seperti itu, maka pilihlah Gudeg Slamet. Biarpun sudah sepuh, sang penjual tetep awas meracik bumbu dan menghitung duit [pasti donk] Mau tidak mau, dari malioboro menuju Wijilan pasti ketemu alun-alun utara, jadi terlihatlah alun-alun yang sudah tertutup ratusan kios. Hmm …. sekaten sudah dimulai. Jadi inget, tahun 70an, aku jualan pisang sale di sekaten. Yang jualan tidak hanya aku, tapi saudaraku, anaknya pak dhe dan juga tidak hanya satu pak dhe, tapi beberapa pak dhe. Aku inget, wa
  • 1

    Feb

    Wawancara CapeG Waskita

    Tahun lalu aku dapet tugas wawancara calon pegawai baru di Undip Semarang. Rasanya nyaman berada di kota LunPia itu. Nostalgia Semarang segera terpampang di halaman muka mataku. Tahun 2009 ini, aku kebagian tugas wawancara di Yogya. Hmmm…. aroma nostalgia langsung tercium jauh sebelum aku menginjakkan kaki di Cengkareng. Benar saja, begitu kakiku menginjakkan kaki di ruang sidang biru lantai 3 fakultas teknik sipil, maka semerbak nostalgia langsung memenuhi hidungku. Mulai dari bos dosen sampai kepala bagian pengairan [Mr.GiYaT] alias yang punya kekuasaan mutlak di dapur, langsung menyalamiku. Aslinya aku pingin ketemuan dengan Master Milis Civeng Mr.Djoko Luknanto, tapi aku tahu beliau sedang super sibuk, jadi ya hanya nitip salam saja. “Kayak pulang kampung ya dab..!&
  • 1

    Feb

    Naik Garuda

    Enaknya tugas ke luar kota oleh perusahaan adalah dipilihkan pesawat yang bagus, yang relatif lebih safe dibanding armada angkut lainnya. Masuk pesawat duluan, disambut kapten pilot yang ramah, dan duduk di tempat yang nyaman [artinya kaki bisa leluasa bergerak, tidak terhalang oleh kursi di depannya]. Apalagi kalau ditugaskan ke Yogya, wah tambah nyaman tuh. Bisa pulkam tanpa biaya dan tidak mengurangi cuti perorangan. Sampai di atas pesawat, berbagai macam koran tergeletak di kursi depan. Ada tempo, kompas, dll. Hmmm pilih kompas aja ya. Berita di halaman depan sangat menarik, “SEKATEN”. Seperti biasa, kebiasaan orang kita, maka sampai di Jakarta para penumpang langsung berdiri, hand phone juga sudah mulai berdering, padahal pesawat belum benar-benar berhenti. Hmmm
  • 22

    Dec

    Jape Methe [cahe dewe]

    Di Yogya sering kita dengar ucapan aneh yang begitu fasih diucapkan dan terasa begitu familiar bagi kalangan tertentu. Salam “Jape Methe” atau panggilan akrab “dab” begitu sering terdengar. Apa sih artinya? Coba perhatikan gambar di bawah ini. ja ada di baris ke tiga kolom ke tiga kita baca sebagai ca baris ke satu kolom ke tiga pe ada di baris ke tiga kolom pertama kita baca he sesuai baris ke satu kolom ke satu sehingga jape dibaca cahe Jadi kuncinya adalah, baris pertama dibaca sebagai baris ke tiga dan sebaliknya, sehingga baris ke dua dibaca sebagai baris ke empat [dan sebaliknya]. SO, dab terdiri dari dua huruf da dan ba atau dibaca sebagai ma dan sa, sehingga dab=mas. Sahany = Bapak Pisu = Hibu [ibu] Gadhge = Tante Lebeny = Ngesek Dab Penyo = Mas Eko
  • 5

    Oct

    KEhangatan Syawalan Waskita

    Akhirnya syawalan Waskita terlaksana juga pada tanggal 3 Oktober 2008 di Mang Engking Castle Soragan. Dari getok tular via SMS, ternyata yang datang lebih dari perkiraan [tahun lalu]. Pak Pius, kembali jadi host dan kembali datang “agak” terlambat. Hanafi, sebagai “co host” tampil nggak mengecewakan [datang duluan] Pak Joni JA, bu Tyas yang tadinya kejebak macet di Jalan Yogya Magelang, akhirnya dapat juga nyampe dengan selamat. Pak Didi, sampai malem nggak juga dateng, karena terjebak macet di Jalan Yogya Solo. Di depan pak Didi, yang lolos dari macet adalah pak Widi dan pak Lantip. Herwidiakto yang tahun lalu “kepancal”, kali ini bisa hadir lengkap. Karyono Prayudi, seperti biasa datang dengan istri tercinta [anak-anaknya gak pernah ikut, sudah pa
  • 23

    Sep

    Malioboro

    Pengamen itu mulai mendekati dan siap-siap untuk menyanyi, ketika aku dan rombongan keluargaku sedang menyantap Gudeg di Malioboro. “Wah, harus cari cara untuk mengusir mereka nih”, gerutuku sambil mulai menyantap nasi Gudeg yang baru saja terhidang. Segera kupasang muka tergesa-gesa, dan mulai berakting,”Ini sudah jam 12 malem, kita sudah ditunggu lho” “Kan masih bisa nunggu, kita baru makan nih”, sahut anggota keluargaku [nggak paham dengan aksiku] “Udahlah, besok kan masih bisa. Bungkus aja, kita segera berangkat”, aku terus beakting. “Emmm, …”, mulai ada rasa curiga dan paham akan kondisi. “Oke? Bungkus?”, aku mulai dapet angin. “Iya deh, kita pulang aja yuk”, nah umpan sudah termakan.
  • 4

    Aug

    YogYa (kOe)

    Mbaca-mbaca imil pak Mitrabani, ada foto-foto tentang Yogyakarta. Jadi pingin pulang ke yogya melihat foto-foto itu. Kangen banget…! Apalagi adik yang sedang ngawani ibu di Yogya masuk RS. Kasihan deh ibu jadi berkurang temennya. Semoga LiLis, adikku segera sembuh dan dapat ikut kembali bercanda ria dengan ibuku. Amin.
-

Author

Follow Me